Indonesia mulai bergerak dari negara yang hanya mengekspor
sumber daya alam ke arah industri ekspor yang memberikan nilai tambah yang
dikenal dengan hilirisasi. Istilah ini populer di era Jokowi, tetapi sebetulnya
sudah lama berlangsung hanya belum dipahami sebagai strategi yang menyeluruh.
Salah satui alat mengukur keberhasilan hilirisasi adalah
Economic Complexity Index (ECI). ECI lahir dari sebuah kritik terhadap teori
ekonomi tradisional yang menganggap bahwa kemakmuran negara dari memiliki
faktor produksi (tanah, tenaga kerja, modal). Namun, ECI berargumen bahwa
kemakmuran sebenarnya ditentukan oleh "Pengetahuan Kolektif" (Collective
Know-how).
ECI adalah sebuah ukuran kemampuan produktif suatu negara
yang dilihat dari struktur produk yang diekspornya. ECI bukan menghitung berapa
banyak barang yang dijual, melainkan seberapa rumit pengetahuan yang
dibutuhkan untuk membuat barang tersebut.
ECI dikembangkan oleh dua tokoh utama yang menggabungkan
ilmu Fisika Jaringan (Network Physics) dengan Ekonomi
yaitu Ricardo Hausmann, seorang ekonom dari Harvard University, mantan
Menteri Perencanaan Venezuela dan Cesar Hidalgo: Seorang fisikawan Chili
dari MIT Media Lab.
Kedua tokoh ini memandang ekonomi bukan sebagai sekumpulan
angka statistik, melainkan sebagai sebuah jaringan syaraf yang
menghubungkan berbagai kemampuan.
Nilai ECI Indonesia
Meskipun ekonomi Indonesia cukup besar secara volume,
menurut IMF nomor 7 dunia berdasarkan PPP, namun secara kualitas pengetahuan
produknya masih sederhana. Ekspor Indonesia didominasi oleh Batubara dan
CPO, yang dalam skala ECI bernilai rendah. Posisi Indonesia sekarang
pada peringkat 64-72 (makin besar, makin kurang canggih) dengan skor antara
-0,06 hingga 0,05.
Perbandingan Dengan Negara Lain
Berdasarkan The Atlas of Economic Complexity dan
laporan ekonomi ASEAN 2025/2026, Malaysia berada urutan 28 dunia berkat ekspor Semikonduktor,
IC, Alat Uji Listrik. Thailand urutan 30 mengekspor Suku Cadang Mobil, HDD,
Mesin Kantor, dan yang mengejutkan karena adalah Vietnam yang baru keluar dari
perang tahun 70-an, memiliki peringkat 45 dengan mengekspor Smartphone,
Peralatan Penyiaran, Sepatu.
Thailand sering disebut model sukses hilirisasi. Mereka
membangun ekosistem otomotif dan elektronik sejak 30 tahun lalu, bukan sekadar
merakit mobil, tetapi memproduksi transmisi, mesin, dan komponen elektronik.
Industri HDD dan agro-industri canggih juga memperkuat skor ECI mereka.
Perbandingan Strategi Hilirisasi
- Malaysia
& Vietnam (Electronics-Led): Mereka fokus pada produk yang sangat
"padat pengetahuan". Meskipun Vietnam banyak melakukan
perakitan, volume ekspor smartphone mereka yang masif menarik
ribuan pemasok komponen kompleks.
- Thailand
(Automotive & Machinery-Led): Thailand tidak hanya merakit mobil,
tapi memproduksi rantai pasok lengkap (transmisi, mesin, komponen
elektronik kendaraan). Thailand menjadi bagian tak terpisahkan dari rantai
pasok Jepang dan global.
- Indonesia
(Resource-Led): Strategi kita unik karena memaksa hilirisasi lewat
larangan ekspor mentah (Nikel, Bauksit). Saat ini Indonesia sedang dalam
fase "Transisi Kompleksitas". Skor ECI kita diprediksi
akan naik signifikan jika pabrik baterai EV dan industri baja tahan karat
(stainless steel) kita sudah mulai mengekspor produk jadi secara
global.
Industri Kandidat PCI Tinggi di Indonesia
Sebetulnya Indonesia memiliki industri yang meskipun secara
volume nilai ekspornya mungkin belum besar, produk-produk ini memiliki skor PCI
(Product Complexity Index) yang sangat tinggi.
Misalnya Industri sawit Indonesia telah bertransformasi dari
sekadar pengekspor minyak mentah (CPO) menjadi produsen berbagai produk turunan
yang rumit. Kita sudah mampu mengolah CPO menjadi ratusan produk turunan, mulai
dari margarine, oleochemicals (bahan baku sabun/kosmetik), hingga
biodiesel (B35/B40).
Industri sawit melompat dari sekadar sektor Agrikultur
ke sektor Kimia Spesialis. Produk oleokimia dasar seperti Fatty Acids,
Fatty Alcohols, dan Glycerin adalah bahan baku yang sangat
kompleks bagi industri globalSecara statistik ECI. Banyak perusahaan lokal
(seperti grup Wilmar, atau Sinarmas) telah memiliki pusat riset (R&D)
sendiri.
Sedangkan sektor Pesawat Terbang (PTDI) & Persenjataan
(Pindad) berada di puncak piramida kompleksitas. Produk dirgantara dan alutsista
membutuhkan integrasi ribuan komponen presisi, sistem elektronik (avionik), dan
sertifikasi keamanan yang sangat ketat. Ini membuktikan Indonesia mampu
mengorganisir ribuan insinyur dan rantai pasok yang sangat rumit.
Keberhasilan INKA mengekspor gerbong dan locomotive
ke Filipina, Bangladesh, hingga Selandia Baru sangat penting. Industri kereta
api menghubungkan manufaktur logam berat dengan sistem kelistrikan. Ekspor
kapal jenis Strategic Sealift Vessel (SSV) oleh PT PAL membuktikan
kapabilitas rekayasa struktur dan sistem navigasi.
Indonesia juga kini menjadi hub ekspor kendaraan Completely
Built Up (CBU) ke lebih dari 80 negara. Otomotif adalah
"jembatan" bagi UKM lokal untuk belajar standar presisi global.
Kesimpulan
Secara nasional Indonesia masih memiliki skor ECI yang
rendah. Kenyataanya setelah dilihat per sektor, ada industri yang sudah
berkembang dan memiliki potensi yang belum dimaksimalkan untuk menempatkan
negara dengan skor ECI tinggi.
Sudah ada industri sawit, pesawat, kapal laut, kereta api,
kendaraan roda empat yang bisa dikembangkan lebih dalam. Sekarang pemerintah
berencana untuk mengembangkan ekosistem nikel, dari smelter, baterai, hingga
mobil listrik.
Seandainya pengembang produk-produk ini lebih terintegrasi,
misalnya ada riset Bersama untuk mengembangkan baterai yang dibutuhkan pesawat,
kapal laut, persenjataan, atau kereta api, tanpa harus menunggu investor asing.
Industri pesawat (PTDI) dan persenjataan (Pindad) juga membutuhkan material Super-Alloy
yang tahan panas tinggi dan sangat ringan dari bahan utama Nikel
Keberhasilan ekonomi Indonesia di masa depan tidak boleh
lagi hanya diukur dari pertumbuhan PDB, melainkan diukur dari jumlah paten
teknologi dan juga munculnya ribuan UKM lokal yang mampu membuat komponen
presisi. Hilirisasi tanpa transfer teknologi hanyalah perpindahan gudang atau
pabrik.
Rekomendasi
Pemerintah harus membentuk Konsorsium Teknologi Nasional
yang antara lain tugasnya mengawasi dan mewajibkan perusahaan hilirisasi nikel
untuk menyisihkan sebagian dana riset
untuk meneliti material khusus atau baterai guna menyokong kebutuhan
material PTDI, Pindad, PAL, dan INKA. Sinergi ini akan mencegah silo-silo
pengetahuan dan memperkuat ekosistem industri strategis sekaligus menjamin
keberadaan pasarnya.
Komentar
Posting Komentar